Harga solar industri pada Agustus 2026 menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, terutama pada Biosolar Industri B40 curah. Untuk periode 1–14 Agustus 2026, harga dasar B40 berada pada Rp18.200 per liter di Wilayah 1 dan 2, Rp18.300 per liter di Wilayah 3, serta Rp18.450 per liter di Wilayah 4. Sementara itu, harga produk diesel non-subsidi retail seperti Dexlite dan Pertamina Dex tidak mengalami perubahan pada 1 Agustus 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga solar pada Agustus perlu dilihat bersama dengan dinamika harga minyak mentah, komponen biodiesel, nilai tukar, serta perkembangan kebijakan B40 menuju B50.
Daftar Harga Solar Industri Agustus 2026
Harga B40 industri menggunakan skema business-to-business (B2B) dalam bentuk curah (bulk) dan dievaluasi secara berkala. Harga dasar yang tercantum dalam laporan belum memasukkan komponen perpajakan seperti PPN, PPh, dan PBBKB.
| Wilayah | Cakupan | Harga B40 |
| Wilayah 1 | Sumatera, Jawa, Bali, Madura | Rp18.200/liter |
| Wilayah 2 | Kalimantan | Rp18.200/liter |
| Wilayah 3 | Sulawesi dan NTB | Rp18.300/liter |
| Wilayah 4 | Maluku, NTT, Papua | Rp18.450/liter |
Perbedaan harga antarwilayah berkaitan dengan struktur distribusi dan biaya logistik. Wilayah 3 memiliki tambahan Rp100 per liter, sedangkan Wilayah 4 memiliki tambahan Rp250 per liter dibandingkan Wilayah 1 dan 2. B40 sendiri terdiri atas 60 persen High Speed Diesel (HSD) dan 40 persen FAME.
Harga Dexlite dan Pertamina Dex
Berbeda dengan B40 industri yang dipasarkan secara curah, Dexlite dan Pertamina Dex merupakan produk diesel non-subsidi pada pasar retail. Pada 1 Agustus 2026, harga kedua produk tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya.
| Wilayah | Dexlite | Pertamina Dex |
| Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Jabar, Jatim, DIY, Bali, NTB, NTT | Rp19.700 | Rp21.150 |
| Aceh, Sumut, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Babel, Lampung | Rp19.100 | Rp21.650 |
| Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau | Rp20.550 | Rp22.100 |
| FTZ Sabang | Rp18.450 | – |
| FTZ Batam | Rp18.700 | Rp20.100 |
| Kalimantan Barat, Tengah, Timur | Rp19.100 | Rp21.650 |
| Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara | Rp20.550 | Rp22.100 |
| Sulawesi | Rp19.100 | Rp21.650 |
| Papua, Maluku, Maluku Utara | Rp19.100 | – |
| Papua Barat, Papua Barat Daya | Rp19.100 | Rp21.650 |
Harga tersebut telah memperhitungkan PBBKB sesuai ketentuan wilayah masing-masing.
Tren Harga B40 Sepanjang 2026
Pergerakan harga B40 Wilayah 1 memperlihatkan perubahan cukup besar sejak awal tahun. Harga yang berada pada Rp20.750 per liter pada Januari meningkat menjadi Rp30.550 per liter pada pertengahan April, kemudian turun secara bertahap hingga Rp18.200 per liter pada awal Agustus.
| Periode | Harga B40 Wilayah 1 |
| 1–14 Januari | Rp20.750/liter |
| 15–30 April | Rp30.550/liter |
| 1–14 Juni | Rp25.850/liter |
| 15–30 Juni | Rp25.050/liter |
| 1–14 Juli | Rp22.450/liter |
| 1–14 Agustus | Rp18.200/liter |
Berdasarkan data tersebut, harga Agustus berada sekitar 40,4 persen lebih rendah dibandingkan titik tertinggi pada April. Laporan mengaitkan penurunan tersebut dengan meredanya tekanan pasar energi dan pelemahan ICP periode kalkulasi Juli 2026 menjadi US$81,68 per barel.
HIP Biodiesel Agustus 2026
Komponen biodiesel menjadi salah satu faktor penting dalam pembentukan harga B40. Untuk Agustus 2026, Harga Indeks Pasar (HIP) Biodiesel ditetapkan sebesar Rp14.924 per liter, meningkat Rp362 dibandingkan Rp14.562 per liter pada Juli. Nilai tersebut belum memperhitungkan ongkos angkut sektoral.
Perhitungan HIP Agustus menggunakan rata-rata harga CPO KPB periode 25 Juni–24 Juli 2026 sebesar Rp15.626 per kilogram, biaya konversi US$85 per metrik ton, faktor densitas 870 kg/m³, serta kurs yang digunakan sebesar Rp17.985 per US$. Kenaikan harga CPO dan perubahan nilai tukar menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi peningkatan HIP Biodiesel.
Transisi dari B40 Menuju B50
Agustus 2026 juga berada dalam periode transisi menuju mandatori B50. Berdasarkan laporan, fase transisi dimulai pada 1 Juli 2026 dengan masa toleransi tiga bulan untuk menghabiskan stok B40. Implementasi penuh B50 dijadwalkan mulai 1 Oktober 2026.
Program B50 diproyeksikan memberikan sejumlah manfaat ekonomi, antara lain penghematan devisa impor solar hingga Rp139 triliun, nilai tambah hilirisasi sawit Rp21,8 triliun, penyerapan tenaga kerja hingga 1,9 juta orang, serta potensi pengurangan emisi sebesar 41,5 juta ton CO2e. Pada saat yang sama, peningkatan porsi biodiesel membuat perkembangan harga CPO menjadi semakin relevan terhadap struktur biaya bahan bakar.
Dampak bagi Industri
Perubahan harga solar memiliki pengaruh langsung terhadap sektor yang menggunakan BBM dalam jumlah besar, terutama pertambangan, logistik, dan manufaktur. Pada sektor pertambangan, efisiensi konsumsi BBM menjadi penting karena kegiatan hauling dan pengoperasian alat berat sangat bergantung pada solar. Strategi seperti pengendalian waktu idle, optimalisasi rute angkut, dan pengelolaan armada dapat digunakan untuk mengendalikan konsumsi bahan bakar.
Pada sektor logistik, laporan menunjukkan bahwa BBM dapat menyerap sekitar 30–40 persen biaya operasional perjalanan armada. Kenaikan harga solar dapat meningkatkan biaya angkutan dan mendorong perusahaan menerapkan fuel surcharge untuk menyesuaikan tarif kepada pelanggan.
Sementara itu, industri manufaktur menghadapi tekanan ketika kenaikan harga energi terjadi bersamaan dengan peningkatan biaya bahan baku. Kondisi tersebut dapat menekan margin dan utilisasi produksi. Laporan mencatat PMI Manufaktur Indonesia berada pada 46,9 pada Juni 2026, yang menunjukkan tekanan terhadap aktivitas manufaktur pada periode tersebut.
Aspek Teknis Penggunaan B40
Selain harga, penggunaan B40 memerlukan perhatian terhadap pengelolaan bahan bakar dan pemeliharaan mesin. Laporan mengidentifikasi sejumlah risiko teknis, antara lain akumulasi air, pertumbuhan mikroorganisme, pembentukan biosludge, penyumbatan filter, dan potensi fuel dilution. FAME juga memiliki nilai kalor sekitar 5–10 persen lebih rendah dibandingkan diesel fosil sehingga aspek konsumsi dan pemeliharaan perlu diperhatikan.
Laporan merekomendasikan penguatan pemeliharaan, termasuk pengurasan air pada tangki, pemantauan filter, pengujian kondisi oli, serta penyesuaian interval penggantian oli. Untuk mengantisipasi fuel dilution, laporan menyebut rekomendasi pemendekan interval penggantian oli sekitar 10–15 persen dari batas aman awal.
Harga solar industri B40 pada awal Agustus 2026 berada pada Rp18.200–Rp18.450 per liter, tergantung wilayah distribusi. Harga tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan puncak Rp30.550 per liter pada pertengahan April. Sebaliknya, harga Dexlite dan Pertamina Dex pada 1 Agustus 2026 relatif tetap, masing-masing berada pada kisaran Rp19.100–Rp20.550 dan Rp20.100–Rp22.100 per liter sesuai wilayah.
Perkembangan harga selanjutnya tetap dipengaruhi oleh kondisi pasar energi, harga CPO, nilai tukar, HIP Biodiesel, serta transisi menuju B50. Bagi industri, kondisi tersebut menegaskan pentingnya pengendalian konsumsi BBM, efisiensi operasional, dan pemeliharaan mesin sebagai bagian dari pengelolaan biaya dan risiko operasional.








